Rabu, 28 April 2010

cerpen - Menghitung Caleg Gila

cerpen - Menghitung Caleg Gila


Gila Berhitung

Cerpen Muhamad Nasir



Soal berhitung, Rudi paling jago. Sebelum sekolah pun, dia sangat fasih menghitung jumlah ekarnya*. Dia juga tahu betul bagaimana supaya ekarnya tak berkurang. Sehingga di kalangan teman-temannya dia dipanggil si kancil. Tubuhnya memang kecil dibanding umurnya.

Tapi ternyata seperti kata tetangganya, orang yang kecil itu memang biasanya seperti Rudi. ”Contohnya saja,  orang Jepang. Soalnya antara otak dan pantatnya dekat. Atau Pak Habibie, orangnya kecil ternyata bisa menjadi orang besar,” kata tetangga Rudi saat berbincang di pos ronda  ketika si kancil itu lewat membawa sekantong ekar hasil permainannya.

Selain bisa menambah, Rudi memang pandai mengurang, mengali sekaligus membagi. Tidak seperti  orang kebanyakan, yang biasanya  sulit ketika diminta untuk membagi.

Itulah pula   yang membuat Rudi selalu diajak bermain ekar meskipun teman-temannya selalu kalah dan kehabisan modal.

Rudi tak segan-segan memberi pinjaman bahkan terkadang memberi modal kepada temannya yang kalah. Atau terkadang teman yang ingin main tapi tak punya ekar pun diberinya modal.

”Nanti juga kan baliknya ke saya juga. Saya ada hitung-hitungan. Tak bisa mengembalikan dengan ekar juga, pake uang juga bisa. Atau dengan bayaran lain, bersedia disuruh-suruh juga tak apa,” pikir Rudi bergumam ketika sedang berada di kamar kecil rumahnya yang ukurannya cukup luas.

Ayahnya yang berada memang tak kekurangan untuk memberikan apapun bagi anaknya. Termasuk makanan bergizi dan enak.

Mungkin karena faktor tertentu saja, Rudi pun tumbuh lamban secara fisik.Meskipun ternyata pertumbuhan akalnya justru berbanding terbalik.

Ketika sudah sekolah, warga di kampung  itu bersyukur karena ternyata Rudi cukup pintar. Masih kelas I, dia sudah bisa membaca. Diminta gurunya menghitung, lebih  dari seribu dia sudah bisa.

Apalagi, kalau menghitung uang kembalian di warung, dia sering diminta bantuan kala kalkulator Wak Lam, warung laris di kampungnya ngadat. Juga, kalau ada Wak Lintai, penjual pempek keliling yang agak sulit menghitung kembalian kalau uang yang disodorkan di atas 20 ribuan.

Pun, waktu Ketua RT menghitung uang hasil pumpunan warga untuk merayakan peringatan kemerdekaan. Kecuali menghitung uang penjualan beras untuk rakyat miskin, Pak RT paling takut kalau ada Rudi. Soalnya, takut ketahuan kalau ada tilep-tilep dikitnya ketahuan.

Hingga beberapa tahun kemudian Rudi yang cukup aktif berorganisasi akhirnya nyantol di sebuah partai baru. Meski jumlah partai lebih dari 40, tak susah baginya menghitung-hitung kemungkinan perolehan angka.

Ketua partai di daerahnya pun meletakkan nama Rudi bukan di nomor   sepatu. Dia di tarok di nomor jadi. Biar mudah menghitung perolehan suara nanti.
Hanya saja, kasak-kasak kusuk yang beredar di internal partai baru itu, ada faktor lain yang membuat nama Rudi di atas. “Biasalah,” ujar Darmawan, seorang tokoh yang tak sedikit jasanya dalam perkembangan partai tersebut yang kemudian justru berada di bawah nama Rudi. Dia tak berani terlalu sinis, namun dalam berbagai kesempatan dia selalu menaburkan kata-kata beracunnya. Sekedar memuaskan hati.

Soal kampanye, Rudi memang jago. Apalagi timnya juga tak sedikit. Laporan dari tim suksesnya, 80 persen suara bisa diperoleh, dan diyakini dia bisa menempati salah satu ruangan di gedung perwakilan nanti.

Semakin bagus laporan, semuanya semakin lancar. Apalagi, itu semakin mempermudah Rudi memperhitungkan prediksi perolehan suara.

”Kita lihat saja nanti, politik tak bisa disamakan dengan matematika. Jangan khawatir, belum tentu dia jadi,” ujar calon separtai Rudi yang merupakan rekan sekaligus rival.  Apalagi, ternyata dia sudah terlalu sering dikadali Rudi sejak kecil dalam berbagai permainan. Meski, kemudian dengan licinnya, Boim yang juga teman sekelas Rudi ini, tak selalu kalah di akhir permainan.

”Kita boleh kalah berhitung, tapi jangan kalah bertanding,” begitu motto Boim, yang selalu disampaikan usai permainan ekar. Sayangnya, Rudi tak pernah mendengar gumaman ini.

Diprediksi, politikus muda ini bisa menghimpun suara. Apalagi, hitungan dana yang mengalir uangnya tak berseri lagi.

Tim sukses pun memberikan jaminan dengan mengangkat jempol.
Sehingga makin ramai saja rumah besar itu dihampiri orang-orang. Dari yang sekedar mampir, ikut berjuang, sampai mereka yang memancing di kolam berikan. Ambil ikannya, tanpa perlu punya kolam.

Bagi Rudi, bayangan gedung dewan sudah di pelupuk mata. Dia sudah menghitung banyaknya tiang gedung itu. Lalu jumlah gentengnya, dan berapa banyak rakyat yang nantinya bisa diperjuangkan.

Jumlah bendera, leaflet, iklan, spanduk, reklame yang memancangkan foto berwarnanya tak terhitung lagi. Tapi, dia sungguh hapal. Berapa yang ada di sekitar jembatan Ampera. Ada berapa yang lepas di sekitar Mesjid Agung. Atau beberapa yang diturunkan mahasiswa di kampus-kampus perguruan tinggi swasta maupun negeri yang tak terima kampusnya dijadikan ajang kampanye.

Begitu juga, hasil cetakan yang dipesan. Berapa yang cacat, jumlah yang harus dikembalikan dan dicetak ulang, atau berapa banyak lagi percetakan yang masih belum mengembalikan kelebihan pembayaran.

Prinsipnya memang cucok dengan partainya. Calon dari partainya memang tak banyak-banyak, cuma 4 orang. Sehingga, terbayanglah, dia yakin terunggul dalam perolehan suara di partainya.
”Tapi dia lupa, saingannya bukan calon separtai. Tetapi calon dari partai lain. Kalau perolehan suara partainya saja kurang, tak bakal ada yang jadi calonnya. Karena yang dihitung terlebih dahulu adalah perolehan partai,” kata anggota KPU yang menguasai teknis penghitungan dan meragukan Rudi bakal gagal merealisasikan keinginannnya.

Sebulan setelah pesta rakyat. Kala suara perolehan sudah dihitung, Rudi semakin jago menghitung. Tanpa kalkulator di tangan, dia mengitari rumahnya. Seolah memegang mesin hitung, dia menambah, mengurang, mengali, dan terkadang membagi. Lalu menjumlah. Hasilnya, dia tertawa.

Itu dilakukannya setiap pagi dan siang. Nbahkan terkadang sampai malam. Yang dihitungnya, mulai dari kasbonkasbon laporan tim sukses hingga jumlah keramik di lantai rumahnya. Juga, jumlah genteng atap rumahnya. Termasuk, jumlah jas dan saparinya yang sudah disiapkan untuk dipakai saat menghadiri rapat di fraksi ataupun di komisi seandaainya dia bisa jadi.

Tuntas semua benda di rumah dan sekitar rumahnya dihitung, dia pun meluas ke tetangganya. Pun, rumah Pak RT. Bahkan, mesjid pun tak lupa dihampirinya. Jumlah celengan, berapa isinya, berapa total sumbangan yang diterima, dan untuk apa dana itu digunakan. Pembukuan di papan pengumuman mesjid juga dilalapnya.

Pak RT bahkan sedikit grogi     ketika Rudi menghitung jumlah raskin yang diterima dan warga yang berhak menerimanya. Namun, bisa sedikit tersenyum ketika mengetahui pandangan mata Rudi, kosong. Hampa dan tak memberikan respon ketika bertatapan dengan orang-orang yang dikenalinya.

Ketika televisi menyiarkan hasil perolehan suara para calon legislatif, Rudi justru menghitung uban seorang nenek yang mampir ke rumahnya dan menyorongkan karung minta diisi beras. Dengan cepat, karung itu pun diisi rudi sebanyak 2,5 liter.

Tinggal kini, ayahnya yang sibuk mengupayakan agar anaknya berhenti menghitung. Disarankan, agar Rudi dimintai tolong untuk menghitung perawat dan dokter di rumah sakit. Kalau saja, hitungannya tak meleset.

Masih pagi tadi, seorang bocah, Romlah, dikejar orang tuanya. Karena berani menyebutnya gila. Saat melihat Rudi sibuk menghitung dengan suara yang keras dan seperti mencari sesuatu, dia bertanya kepada ayahnya. ”Lagi ngapain sih Om Rudi itu,” tanya Romlah yang selama ini kenal baik dengan Rudi karena sering dibagi duit dan kaos partai.

Ayahnya menjawab, ”Menghitung dan mencari suaranya yang hilang.”
Mendengar itu, Romlan yang tak mengerti spontan menyebut ayahnya gila. ”Ye, ayah gila ya, kan Om Rudi itu suaranya gak ilang. Tuh, dia masih bisa berhitung. Suaranya masih jelas terdengar. Gila nih ayah,” katanya polos.

Mendengar itu, ayahnya memerah dan sigap melepas sendal. Melihat itu, Romlan yakin di mata ayahnya dia melakukan kesalahan. Biasa, kalau dia ketahuan mengambil uang receh, ayahnya akan melepas sendal jepitnya dan memukulkan ke pantatnya. Supaya aman, jurusnya Cuma satu. Berlari.

Romlan bingung, kenapa ayahnya marahnya sama seperti ketika mengetahui   ia mencuri simpanannya. Padahal, dia merasa tak salah.

Palembang, Oktober 2009


Muhamad Nasir

Jalan Lomba Jaya Gang Jaya, no 1606, rt 25 rw 07, Sekip Palembang. Email: nasirsetr@hotmail.com 




Bio data:

Kelahiran Beringin, 16 Mei 1969. Menulis cerpen dan esai di koran lokal dan nasional sejak 1996. Saat ini, jurnalis dan juga dosen di perguruan tinggi di Palembang. 2007 lalu menerbitkan kumpulan cerpen, Kaos Politik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar