Sabtu, 21 Februari 2009

Bab I, Kaos yang Bisu

Bab I, Kaos yang Bisu


Kaos Ini Milikku





Nang Ayu Ibrahim tinggal di tepi Sungai Musi. Rumahnya berapung di atas permukaan air. Berada di rumah, terasa menumpang kapal pesiar. Bedanya hanya fasilitasnya. Bangunan tempat tinggalnya di atas rakit, sama sekali juah dari sederhana. Terbuat dari kayu dan papan kelas, beratap genteng kodok serta perabotan yang tak murah.
Siang hari, di tengah terik matahari, rumah itu kini sepi. Sekeliling rumah itu, dipagari tiang dan tali jemuran yang telah kosong. Padahal, sebelumnya selalu penuh jemuran. Berbagai jenis pakaian, termasuk kaos.
Nah, kalau kaos, bahkan juga memadati lima kamar termasuk gudang di dalam rumah. Kini, seiring berlalunya waktu, kaos-kaos itu pun berpindah tangan. Karena memang kaos itu dipesan di tempat sablonnya memang untuk dibagikan. Terutama agar masyarakat mengenal gambar di kaos itu lalu saat pemilihan umum mencoblos gambar itu.
Rumah besar itu, kini memang lebih sering sepinya dibanding ramai. Padahal, sebelumnya selalu ramai. Maklum, sang pemilik rumah mencalon menjadi wakil rakyat. Tak tanggung-tanggung, bukan wakil rakyat di daerah. Tapi di pusat. Calon independen. Tak punya kendaraan partai. Gagahnya, Nang Ayu Ibrahim nantinya menyandang gelar senator kalau di Amerika sana. Atau Dewan Perwakilan Daerah kalau di negeri ini.
Upaya mencari dukungan memang bukan hanya melalui kaos. “Banyak yang saya lakukan. Juga banyak yang saya janjikan, dan saya yakin akan saya penuhi kalau saya terpilih. Itu harus nyambung ke masyarakat,” ujar Nang Ayu Ibrahim beberapa waktu lalu kepada tim suksesnya.
Sebagai pengusaha pempek sekaligus mantan pejabat, Nang Ayu sesungguhnya telah sukses. Tapi akankah, kesuksesan itu bisa diraihnya dalam perebutan kursi parlemen. Waktu lah yang dapat memberikan jaminan.
“Kita harus yakin. Kalau kita tidak yakin, bagaimana pemilih akan yakin,” tegas Nang Ayu kepada keluarganya juga.
Semua keluarga dan kerabat juga menjadi tim sukses internal yang bekerja sama dengan tim sukses eksternal yang bakal menggiring Nang Ayu ke ibukota. Sehingga, kalau terpilih bukan lagi level provinsi yang dimainkan. Tapi sudah level negara.
“Bukan tak mungkin, usaha pempek Palembang kita juga bisa mengembangkan sayap ke seluruh persada,” ujar istri Nang Ayu, Jeng Sri yang kelahiran Jawa dan tamatan universitas.
Sebagai mantan pejabat, sesungguhnya memang Nang Ayu punya kesempatan besar untuk menang. Tanpa diberi kaos pun, masyarakat Palembang pasti mengenal siapa dirinya. Terlebih ketika dia pun terjun ke dunia bisnis.
Tapi, bagaimanapun memang upaya harus dilakukan. Termasuk mencetak pamflet, spanduk. Semuanya menampilkan foto dirinya dalam berbagai gaya. Sehingga diharapkan bisa diterima berbagai golongan masyarakat.
“Paling tidak, 50% warga Sumsel harus mengenakan kaos Bapak,” ujar Amir, seorang tim sukses.
Target itu memang tercapai. Bahkan, lebih dari itu. Kaos-kaos itu telah diterima pemilih yang nantinya bakal mencoblos di tempat pemungutan suara. Tak sedikit anggaran yang dikeluarkan Nang Ayu.
Bahkan, usaha pempeknya pun lebih disibukkan soal kaos. Pelanggan menjadi urusan nomor dua. Sampai akhirnya, beberapa cabang pempeknya pun ditutup sementara. Istri dan keluarganya termasuk karyawan sibuk mengurus kampanye. Terlebih ketika mememasuki hari-hari terakhir.
Di mana-mana, kaos bergambar Nang Ayu beredar. Bukan hanya di perkantoran. Tapi juga di sekolahan. Beberapa anak sekolah yang kaos olahraganya mungkin kotor, mengenakan kaos bergambar Nang Ayu ketika pelajaran olahraga.
Meski ada yang distrap gurunya karena mengenakan kaos olahraga resmi, yang penting bagi Nang Ayu, kaos bergambarnya telah mencapai sasaran.
Termasuk penjual koran di lampu-lampu merah banyak yang mengenakan kaos miliknya. Yakin lah Nang Ayu, dirinya bakal terpilih nanti.
Tak peduli usaha bisnis pempeknya telah macet sementara ataupun tabungan dan depositonya selama menjadi pejabat dulu pun kini telah menipis. Tak perlu khawatir, apalagi berbagai pihak juga sudah menawari bantuan dalam bentuk apapun kalau memang diperlukan.
Tak sulit memang, bagi Nang Ayu untuk berjuang. Kaosnyapun sangat diminati. Sampai-sampai, saat kampanye, kaos yang sedang dipakainya pun didaulat untuk dilepas agar diberikan. Terpaksalah, kaos itu lepas dan dilempar ke massa.
Bukan sekali dua, cetak ulang kaos dilakukan. Apalagi menjelang hari H pemilihan. Kaos milik Nang Ayu memang penuh variasi. Selain gambarnya aneka macam, kata-katanya juga menarik. Seakan bukan untuk kampanye. Sehingga, dipakai dimana-mana pun bisa.
Bukan saja jemuran di rumah-rumah rakit dekat kediaman Nang Ayu yang setiap harinya pasti ada kaos bergambar dirinya yang sedang dikeringkan pemiliknya. Tapi juga jemuran di rumah-rumah di pelosok desa dan perkotaan.
Cuma satu yang dilupakan. Karena banyaknya fose dan jenis foto di kaos yang dibagikan, saat memilih, pemilik kaos tak mengenali lagi Nang Ayu. Apalagi, ternyata fotonya di kaos dan kertas suara sangat berbeda jauh.
Perolehan suara Nang Ayu lumayan. Sayang, calon lain ternyata juga lebih lumayan. Memang, kaos-kaos telah dibagikan. “Tapi yang harus diingat, warga juga mendapat kaos-kaos dari calon lain. Jadi tak bisa disalahkan kalau mereka juga akhirnya bingung menentukan pilihan,” bela ketua tim sukses, Agus ketika disemprot saat diketahui perolehan suara Nang Ayu masih jauh dibanding calon lainnya.

Di rumah Nang Ayu kini tak satupun kaos bergambar dirinya. Yang ada justru surat tagihan atas cetak ulang kaos. Kalau saja bukan pasca pemilihan umum, surat tagihan itu bukan persoalan.
Tapi ini, lain. Persediaan anggaran telah menipis. Penawaran bantuan telah menyepi ketika perolehan suara dipastikan tak mendudukkan Nang Ayu sebagai senator. Hanya sesekali telepon berdering, entah itu di hand phone atau di telepon rumah. Ternyata ucapan dari koleganya pertanda ikut prihatin.
Dalam waktu singkat, jenggot dan kumis Nang Ayu yang dulu rajin digusur setiap dua minggu, kini telah merimbun. Rambutnya juga. Pakaiannya meski kusut, tetap perlente. Hanya agak kumal saja.
Bukan cuma istri atau anak-anaknya yang tak bisa diajak komunikasi lagi pascapemilihan umum karena sibuk dengan terawangan pikiran masing-masing. Sehingga, memang di rumah besar milik Nang Ayu, semuanya pada sibuk dengan pikiran masing-masing.
Usaha pempek tak jalan lagi. Gilingan ikan, yang biasa digunakan untuk menggiling ikan gabus yang dibeli di pasar Cinde sedikitnya 50 kg setiap hari kini tak terurus lagi. Kotoran tikus di mana-mana. Di lobang penggilingan bahkan di gagang penggilingan. Aroma kencing tikus dan kecoak sudah mendominasi meja tempat dipasangnya penggilingan ikan itu.
Nang Ayu sendiri, masih sibuk memantau perkembangan penghitungan suara. Sampai akhirnya, dirinya dipastikan tak termasuk dalam empat besar yang mendapat suara terbanyak.
Dari atas mobilnya, pandangannya tertumpu pada kaos bergambar dirnya yang terjemur di rumah susun. Rasa kangennya muncul. Ingin mengenakan kaos itu. Seolah ingin mimpi-mimpi saat kampanye dimana dirinya menjadi senator yang ikut sidang MPR, bisa dirasakan kembali.
Sang sopir pun diperintahkan parkir di sebuah pertokoan. Berjalanlah Nang Ayu yang kini berjenggot panjang dan berkumis tebal dengan yakin. Dia memutar langkah ketika di depan pintu masuk pasar swalayan.
Sekitar 1 km dia berjalan tak dirasakan. Yang penting, kaos yang terjemur mesti didapatkannya. Tanpa mengendap-endap, Nang Ayu menarik kaos bergambar dirinya yang sedang terjemur. Tanpa sungkan dia pun membuka jaket mahalnya lalu menukarnya dengan kaos oblong bergambar dirinya.
Sang pemilik jemuran tentu saja kaget melihat ada lelaki besar tinggi bertelanjang dada lalu seenaknya mengenakan kaos jemurannya. “Hai siapa kamu. Maling ya kamu,” teriak wanita pemilik rumah keras.
“Enak saja. Ini kaos saya. Ini lihat, fotonya sama dengan saya kan,” teriak Nang Ayu tak kalah kerasnya.
Sang pemilik rumah beralih-alih melihat foto di kaos suaminya dan juga wajah pemilik suara yang telah mencoba menguasai harta milik suaminya. Dia tentu saja tak terima, karena wajah dan penampilan orang di kaos itu jauh berbeda dengan lelaki yang berdiri di depannya. Sekalipun wajah itu sama, kaos itu adalah miliknya bukan milik lelaki di depannya.

Sebagai istri yang baik, dia harus mengamankan harta milik suaminya apalagi sewaktu sang suami tidak ada di rumah.
“Kamu maling. Kembalikan kaos itu,” ujar pemilik rumah yang saat itu juga mengenakan kaos bergambar Nang Ayu.
“Enak saja. Kamu yang justru maling. Berani-beraninya juga mengenakan kaos milik aku,” alas Nang Ayu, sembari tangannya menarik kaos yang dikenalan lawan bicaranya.
Spontan, kaos itu pun terangkat. Nang Ayu tak peduli dengan pandangan di depannya, ketika kaos itu terngangkat ternyata sang pemilik kaos belum sempat mengenakan kutang. “Ini kaos ku. Harus kuambil. Kamu justru yang maling,” teriak Nang Ayu.
Pemilik kaos yang tak menyangka bakal disingkapkan kaosnya tak menyadari dirinya tanpa kutang. Tarik-tarikan pun terjadi. Ketika sadar, sang wanita yang mengenakan kaos langsung menutup auratnya. Dia menjerit sekuat tenaga lalu menangis sesunggukan. Warga sekitar pun spontan berlari ke sumber suara. Meski ada yang sempat tertegun menyaksikan sang wanita dengan kedua tangannya menutupi dadanya. Tanpa tanya-tanya mereka langsung mengarahkan langkah ke arah Nang Ayu.
Nang Ayu pun berlari dengan dua kaos di tangannya. Jaket mahalnya tertinggal. Begitu juga sepatu luar negerinya juga lepas sebelah. Tapi, itu tak membantunya lepas dari kejaran massa.
Kayu dan batupun bertubi-tubi menghantam kepala dan tubuh Nang Ayu. Itu spontan membuat Nang Ayu tak sadar. Tapi, dia justru bermimpi telah jadi senator. Dengan kedua kaosnya, yang satu dikenakan dan satu lagi dipegang erat, dia berteriak,” Ini lah yang telah membawa saya ke kursi parlemen,” teriaknya dalam mimpi itu.
Ketika dia siuman saat di rumah sakit, dia merasa asing. Ada wanita, ada anak-anak, ada borgol di tangan kirinya, ada petugas berseragam, tapi tak ada yang dikenalinya lagi. Yang dikenalinya hanya seorang lelaki. Wajahnya asing. Tapi, kaos yang dikenakannya dia merasa sangat akrab. Terutama dengan foto yang terpampang di kaos itu.
“Wah gagah sekali orang itu. Mau rasanya saya seperti dia,” guman Nang Ayu lemah sambil menatap foto yang sesungguhnya foto dirinya sendiri yang terpampang di kaos yang dkenakan Agus, ketua tim suksesnya dulu

Dimuat di Sriwijaya Post, Minggu, 4 Juli 2004






Mencuri Hati








Kampung itu terletak di tepi sungai. Sungai yang menghidupi banyak orang, termasuk Kiemas Nachrudin yang berumah di atas rakit. Terbuat dari kayu dan papan beratap seng yang karatnya sudah mendominasi. Namanya Sungai Musi. Siang hari, di tengah terik matahari, atap rumah itu dihiasi jemuran. Mulai dari pakaian dalam yang sudah berlubang-lubang di sana sini, hingga topi belel dan jaket kusam tebal yang dibeli di loakan.
Pemandangan menjadi tak indah karena rumah-rumah lainnya juga memberikan penglihatan yang sama bagi pengemudi ketek dan penumpang speed boat. Juga pengendara motor maupun mobil dari atas Jembatan Ampera. Beruntung, setiap hari, jemuran di rumah Kiemas Nachrudin masih diramaikan baju yang warnanya cerah. Masih baru pula.
Sehingga, meski agak merusak pemandangan, jemuran di atas atap rumah itu masih memberikan obat bagi yang melihatnya. Soalnya, kaos-kaos itu warnanya cerah-cerah. Dilengkapi gambar dan nomor.
Ya, gambar-gambar partai politik dan nomor urut partai politik serta calon anggota dewan perwakilan desa yang akan ikut pemilihan umum di kota tua, tempat Kiemas dilahirkan 45 tahun lalu.
Memang, dalam usaha merebut perhatian Kiemas dan anak istrinya, kaos pun dibagi-bagikan. Tanpa beban pemberian itu diterima. Jadilah, secara bergantian Romlah istri Kiemas kalau ke pasar pagi membeli ikan teri dan sayur kangkung mengenakan kaos baru.
Begitupun Yasin anaknya yang bersekolah di sekolah dasar, kalau pelajaran olahraga mengenakan baju kaos berlambang partai yang terlihat kedodoran. Maklum, di umurnya yang 10 tahun karena kekurangan gizi, kaos yang all size terlihat menjadi baju kebesaran.

“Wah, kamu besok jangan lagi pakai baju ini. Atau kamu tak usah ikut olahraga saja,” ujar Pak Amir, guru olahraga Yasin.
Memang, Yasin sebenarnya punya baju olahraga. Karena telrlau sering dipakai di luar jam pelajaran, belum setahun baju olahraganya sudah banyak tahi anginnya. Bintik-bintik hitam memenuhi kaos berwarna putih yang ada gambar Rimaunya. Belum lagi, bekas karat dari seng rumah saat dijemur ibunya. Akibatnya, kaos itu pun tak layak pakai.
“Jadi, saya tidak boleh pakai kaos ini? Atau kalau boleh, saya tak usah pakai baju saja Pak kalau olahraga,” jawab Yasin kepada gurunya.
“Yasin, kamu tak ngerti ya. Kaos kamu itu kaso partai. Jadi alat kampanye. Sekarang waktunya belum untuk kampanye,” jawab Pak Guru.
Tentu saja, jawaban pak guru olahraga ini membuat yasin mengkerutkan kening. Tak mengerti.
“Tapi kata Pak Guru Agama, menghargai pemberian orang itu, salah satu caranya dengan memanfaatkan pemberiannya,” jawab Yasin mengutip ajaran gurunya yang lain.
Akhirnya, Yasin pun diskor tidak boleh ikut pelajaran olahraga. “Ya dipikir-pikir ternyata enak juga tidak olahraga. Mana lagi, saya juga sudah capek setiap hari sepulang sekolah berjualan. Untung juga ya,” pikir Yasin.
Memang, sehari-harinya Yasin berjualan kantong asoy di pasar 16 Ilir. Setiap hari itu dilakoninya.
Meski demikian, dia tetap masih suka memakai kaos-kaos yang didapat ayahnya dari orang-orang yang membagi-bagikan secara cuma-cuma.
Begitupun ibunya, kini tak lagi mengenakan gaun-gaun yang dibelikan suaminya di penjual buruk-an Jepang (BJ) di Pasar Cinde.
Kaos-kaos baru berlambang dan bergambar bagus cukup banyak di lemari tripleknya. Hanya rok saja atau kain yang masih buram dan tak bisa dielakkannya untuk tidak dipakai.
“Coba ada juga yang kasih kain. Atau rok ya,” pikir Romlah sambil membilas tiga potong kaos yang habis dikenakannya, suaminya, dan anaknya.
Ketika Kiemas sang suami pulang dari membecak, itupun disampaikan. “Iya ya. Tapi, oarang-orang itu sepertinya Cuma membuat kaos, bendera, sama topi,” ujar Kiemas sembari mencuci becaknya di depan beranda rumah rakitnya. Tampak, tiga topi tergantung di bawah atap becaknya, dan dua bendera kiri kanan menghiasani kendaraan beroa tiga yang merupakan milik tetangganya yang saat ini juga ikut mencalon.
“Nanti lah, saya sampaikan ke bos,” ujarnya pula. Siapa tahu pikirnya, pemilik becak yang katanya juga ikut aktif di partai bisa memikirkan soal rok dan kain untuk istrinya.
Meski bos pemilik becak diketahuinya ikut berpartai, Kiemas tak tahu apa nama partainya. Maklum, dia buta huruf. Begitu juga istrinya. Yang dia tahu, partai bosnya itu warnanya terang.
Kini, dengan banyaknya kaos yang diterimanya, Kiemas maupun istrinya merasa cukup berterima kasih. Sayangnya, mereka berdua jujur saja mengaku tak mengerti nanti akan memilih siapa. Lah, satu partai saja yag memberi lebih dari satu orang.
“Mana saya juga belum pernah ditanya-tanya Pak RT. Emang saya bisa ikut milih nanti?” kata Kiemas kepada rekannya sesama penarik becak.
Sambil menunggu penumpang, Kiemas memang suka mengobrol. Kalau habis obrolan, penumpang belum ada, dia pun tak menolak ajakan teman-temannya untuk memainkan kartu domino.
Uang didapat pun berkerincingan. Jadilah, para abang becak ini dengan kaos-kaos berlambang partai mengadu nasib. Iseng-iseng, siapa tahu menang. Atau, setoran pun terpaksa mengutang kalau kalah.
“Wah ini kampanye atau apa nih,” tegur seseorang dari belakang. Kedatangan orang tak dikenal ini spontan membuat Kiemas dan kawan-kawan kocar-kacir. Tinggallah kartu domino dan uang recehan. Termasuk diantaranya, kaos partai milik Kiemas yang ternyata sudah digadaikan karena dia habis modal.
“Polisi!” teriak Kiemas bersamaan dengan rekan-rekannya sambil berlari. Orang yang baru datang ikut terkejut melihat para tukang becak memakai jurus langkah seribu.

“Wah, orang mau ngasih kaos kok dikira polisi. Emang rambut pendek itu cuma polisi yang boleh,” gumam Herman, seorang calon anggota dewan, yang memang berambut cepak.
Sekantong kaos yang dibawa Herman pun dibawa kembali. Urung dibagikan. Termasuk daftar nama yang masih kosong dari tandatangan maupun cap jempol yang menyatakan bahwa kaos telah diterima.
“Mau dikasih kaos kok lari. Apalagi kalau cuma ngasih kartu nama atau kalender,” kata Herman bercerita di kantornya.
“Atau begini saja Pak. Sekarang kita bagikan beras saja,” saran anggota partai yang diketuai Herman.
Kiemas dan kawan-kawan tak lama kemudian kembali ke tempatnya mangkal ketika dilihatnya orang yang tak dikenalnya sudah pergi. “Itu sepertinya bukan polisi,” kata Rudi, seorang tukang becak yang tadinya sudah menang dan mengantongi 10 ribu rupiah, namun kemenangannya habis tercecer.
Bik Onah, pemilik warung nasi tak jauh dari tempat para tukang becak ini mangkal menceritakan bahwa orang yang tadi datang sebenarnya mau membagi kaos.
“Dia empat cerita dan heran melihat kalian pada lari,” ujar Bik Onah tertawa memperlihatkan giginya yang ompong.
“Wah kalau cuma kaos sih, kami sudah banyak. Lagian, gimana mau milih dia. Kita tak kenal siapa dia. Jangan-jangan nanti kalau terpilih, tak ingat lagi sama kita,” ujar Parmin, seorang pemuda tamatan SMA yang terpaksa membecak karena lima tahun tamat sekolah belum dapat pekerjaan.
“Wah, coba jangan lari….,” .
Palembang, Maret 2004
(Dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 3 April 2004)












Motor Tua





Motor tua itu, sesungguhnya masih bagus. Hanya saja debu dan sarang laba-laba membuatnya seakan menjadi seonggok besi tua tak berguna di sudut gudang. Banyak cerita yang dibawa motor tua itu. Mulai dari masa-masa sekolah pemiliknya, pacaran, kampanye pemilu hingga beralih tangan ke generasi penerus sang pemilik. Anaknya.
Kini, kalau saja motor itu bisa bercerita, dia akan memutar kembali rekaman masa lalunya.
Mulai dari dia ketika dibayar dengan kontan oleh Ibnu Hajar untuk anaknya, Amirullah yang saat itu naik ke kelas III SMA. Itu tahun 1970. Dengan nilai rata-rata 8, Amirullah dapat kelas paspal. Jurusan paling bergengsi kala itu.
Hadiah dari orang tuanya yang pengusaha ternama di Palembang, sebuah motor. Beroda besar, dengan tanki bensin juga besar. Warnanya hitam.
Tak banyak yang bisa pegang motor ketika itu. Jadilah, dengan celana cutbrai, Amirullah jadi pusat perhatian. Mujur, prestasi belajarnyapun semakin bagus. Dia juga aktif di organisasi sekolahnya. Banyak teman, luas pergaulan, ditambah punya kendaraan tentu saja membuat pemuda Amirullah punya banyak kesempatan.
Tamat SMA, dia pun melanjutkan kuliah ke Pulau Jawa. Motor kebanggaannya dibawa. Pilihan orangtuanya memang tepat. Amirullah tak semata bagai katak dalam tempurung. Pergaulan dan pengalamannya semakin luas.
Bukan saja soal kuliah tapi juga soal wanita. Gonta-ganti pacar bukanlah hal aneh bagi Amirullah. Saksi matanya, motor gede itu.
Dengan suara besar dan jok besar, pantat-pantat gadis pun tak sedikit telah menikmati empuknya jok motor itu.
Balasannya, tentu sang pemilik pun bisa merasakan getaran gadis-gadis itu. Sampai akhirnya, Amirullah tercantol seorang gadis. Umiyati, namanya. Belum tuntas kuliah, keduanya terikat tali perkawinan.
Setahun kemudian, lahirnya seorang bayi. Namanya Amiruddin. Dia berumur 3 tahun, sang ayah tamat kuliah. Sang balita dan ibunya diboyong ke Palembang.
Naluri bisnis Amirullah jalan. Organisasinya juga. Dia sukses menjadi pemborong, juga menjadi aktivis partai. Dengan motor besar, waktu kampanye dia turun jalan. Ikut keliling kota bahkan ke daerah-daerah.
Saat pemilihan umum, di partai berkuasa, dia ikut terpilih. Kini, statusnya anggota dewan. Dari luar, semuanya tampak begitu mudah.
Meski sesungguhnya tak segampang itu. Perkawinannya pernah nyaris bubar. Gara-gara sang istri cemburu karena kedekatannya dengan sekretaris ketika sibuk-sibuknya berpartai.
Kalau saja, dia tak sabar, keinginan cerai istrinya bakal ibarat gayung bersambut. Tapi, dia masih sabar dan memang pandai menyimpan rahasia.

Kecemburuan itu tak terbukti. Meski sesungguhnya memang wajar dicemburui karena hubungan mereka sudah terlalu jauh. Motor hitam gede itulah saksi matanya. Sama seperti dulu ketika dia kuliah.
Begitupun bisnisnya, nyaris roboh. Karena, antara politik dan bisnis pernah tak seimbang. “Beruntung, dengan kedudukan terhormat sebagai anggota dewan, proyek-proyeknya jalan. Dan pengalamannya berbisnis membuatnya tahu liku-liku proyek,” tutur sang ayah, Ibnu Hajar kepada rekannya saat masih sehat. Kini, Ibnu Hajar memang sudah meninggal.
Memang, Ibnu Hajar pun tak bisa memastikan, mana posisi anaknya yang lebih menunjang. Apakah status pengusahanya menunjang aktivitas politiknya. Atau, aktivitas politiknya yang mendukung usaha anaknya.
Yang jelas, keduanya memberikan modal bagi Amrullah untuk mencalon kembali sebagai anggota dewan. Dan dia pun terpilih kedua kalinya. Motor tua tetap menjadi andalannya pada saat menjelang pemilihan umum.
Dia tampak gagah di atas sadel sepeda motor. Iring-iringan sepeda motor tampak gagah dengan dikawal vorider yang meraung-raung sirine dan lampunya berkelap-kelip.
Teriakan dan yel-yel memuji tokoh dan kepartaian Amirullah mengiringnya mendapat posisi sebagai anggota dewan. Dua kali dia duduk di kursi dewan.
Meski tak banyak yang bisa diperjuangkan bagi orang banyak kala menjadi anggota dewan, setidaknya bagi partai dan orang-orang dekatnya, Amirullah adalah orang baik.
Dan memang Amirullah selalu tampil saat sidang dan rapat di gedung dewan. Dia menjadi orang yang paling banyak bicara. Tidakpernah tertidur ketika sidang. Habis, gizinya bagus.
Dan itu diwariskan ke anaknya, Amirudin. Nyaris sama, perjalanan hidup sang anak dengan dirinya dulu. Bedanya, dulu orang tua Amirullah, Ibnu Hajar, pengusaha murni. Amirullah, pengusaha ya politikus. Dan, anaknya pun diajarkan berorganisasi dan berpolitik.
Di nomor jadi, sang anak pun dipasang. Dengan motor besar milik ayahnya dia pun kembali mengulang sukses. Terpilih menjadi anggota dewan. Seakan, menggantikan kedudukan ayahnya. Kursi yang pernah diduduki ayahnya dirasakan juga olehnya.
Hanya saja, politik berubah. Ketika pemilu diulang saat memasuki tahun kedua, ketika masa reformasi bergulir, Amiruddin tak terpilih lagi. Dia terpental.
Usahanya pun kini hancur. Tinggallah, dia hanya mengurusi proyek yang tak dapat tender lagi. Tak sekuat ayahnya dulu. Motor tua itu pun tak terurus.
Motor itu kini mau bercerita banyak. Tapi, adakah orang masih mendengarkan. Masih kah motor besar itu segagah dulu. Saat motor-motor Cina dengan body yang sama besarnya juga kini telah banyak merajai jalanan. Adakah yang mau membersihkan motor itu.
Pemilihan umum kini pun telah berlalu. Dengan metode yang berbeda dari sebelumnya. Amiruddin, bukannya tak ikut. Meski bukan di nomor jadi, dia berjuang setengah mati. Baik itu tenaga maupun biaya.
“Pemilu sekali ini beda. Tak penting nomor urut. Asal banyak yang milih kita bisa jadi,” ujar Amiruddin kepada istrinya yang sebelumnya sempat mengingatkan.

Ketika penghitungan suara molor karena bermasalah, Amiruddin sempat stress. Melihat angka perolehannya seperti sulap yang gagal. Sim salabimnya sepertinya tak mempan lagi. Apalagi, beberapa kali, setelah penghitungan suara usai, jumlah perolehan suara beberapa kali juga berubah. Tapi anehnya, perolehan suaranya seakan tak bergeming.
Amiruddin memang tak masuk hitungan. Bahkan, partainya pun tak satupun dapat kursi. “Sayang, kamu salah pilih kendaraan. Kalau saja, kendaraan kamu tepat, mungkin gedung dewan bisa kamu masuki lagi,” komentar seorang teman ketika Amiruddin berkeluh kesah.
Mendengar kendaraan, Amiruddin pun teringat motor peninggalan turun temurun dari orang tuanya. Motor itu sebenarnya memang masih bagus. Tapi sayang, tak masuk dalam sebagian otaknya. Sehingga, hanya teronggok di sudut rumah.
Dia sempat menatap motor itu. Terbayang, betapa gagahnya ketika ayahnya dan dia juga sempat mencicipi pamor motor itu. Tapi apa mau dikata, semuanya telah berlalu. Motor itu memang bukan seakan besi tua. Tapi memang sudah menjadi besi tua.
Amiruddin, hanya bisa berkata motor..motor.. motor.. motor. Dia tak mengenali lagi istrinya. Anaknya. Temannya. Partainya sekalipun. Termasuk lambang partainya. Yang ada di otaknya mungkin motor tua yang gagah sehingga yang naik pun menjadi gagah.
Makanya, meski tanpa motor, kini Amiruddin pun mengelilingi kota seakan naik motor. Mulutnya pun bergetar. Ngg Ngg Ngg Rrrrrr. Menirukan bunyi motor.


Palembang, 20 Juni 2004

(Dimuat di Harian Sore Sinar Harapan, edisi Sabtu 31 Juli 2004), www.sriti.com/story_view.php?key=1092















Ketika Gadis Bisu Berlipstik







Waktu mencoblos, aku pun mencoblos. Meski aku tak keluar dari lingkungan kerangkenganku di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pakjo Palembang. Aku hanya tersenyum ketika sipir mengangkat kedua tangannya lalu menggerakkan jari kirinya ke dalam lingkaran jari kanannya. Sembari mulutnya berkata, “mencoblos?”
“Ih… hi hi,” aku tertawa sembari berlari. Saat itu aku baru keluar dari bilik suara. Mencoblos kertas bergambar empat calon pemimpin. Aku tusuk sepasang diantaranya dengan paku yang tersedia.
Gerakan itu mengingatkanku ketika aku masih bebas. Orang-orang yang ingin menikmatiku pun melakukan hal serupa. Bedanya, mereka umumnya serius sembari menarik koceknya dan mengeluarkan lembaran uang Kalau aku setuju, maka kami pun mencari tempat. Bisa di kamar hotel, atau salah satu kamar di rumah susun.
Bedanya, pertanyaan sipir tentu soal coblosan pemilihan presiden yang baru aku lakukan. Tetapi, aku rasa maksudnya juga tetap mengadung arti coblosan lainnya.
Sebagai manusia aku punya keinginan. Juga memiliki perasaan. Tetapi keinginan dan perasaanku sama-sama sulit terpenuhi. Sama seperti suaraku yang tak pernah bisa keluar. Sehingga orang pun sulit memahamiku. Aku memang bisu. Tetapi aku tidak buta dan tidak tuli.
Sejak lahir, aku telah menerima kenyataan. Bahwa ibu yang melahirkan diriku harus menanggung malu. Ayah kandung, jangankan aku, ibuku pun tak tahu dimana rimbanya. Sampai akhirnya, di usianya yang masih muda ibuku mengakhiri hidupnya secara terpaksa. Dia ditabrak mobil ketika sedang bertugas. Ibuku memang pekerjaannya di pinggir jalan. Dengan sapu di tangan, dia membersihkan jalan.
Dengan gaji yang dihitung harian dan diterima mingguan, ibuku berjuang menghidupi aku. Tetapi, dia akhirnya tak bisa terus menghidupi dirinya ketika sebuah mobil sedan menabraknya. Dan ajal pun seketika menjemput.
Aku tak tahu bagaimana nasib si penabrak. Karena memang aku ketika itu hanya bisa diam. Menangis pun aku tak bisa. Karena memang lidah ku pendek. Hanya air mata ku menetes ketika orang-orang kulihat membawa ibuku di atas kasur. Dia membisu sama seperti ku.
Bedanya, aku basah karena ngompol sejak sehari semalam ditinggal ibu kerja. Sementara ibuku kata orang basah karena dimandikan soalnya tak bisa lagi mandi sendiri.
Biasanya sih, dia akan pulang ketika matahari menjelang terbit. Lalu menyusuiku. Taklama kemudian memandikan aku. Terdengarlah nyanyian tak bersyair dari mulutnya. Bagiku, lagu yang dinyanyikan itu begitu indah. Mendayu-dayu. Entah bagi orang lain.
Buktinya, pernah suatu ketika ibu dimarahi tetangga karena mungkin kesal mendengar senandung ibu yang itu-itu juga. Sampai akhirnya, kemudian ibu mengecilkan volume lagunya sejak keributan dengan tetangga yang kemudian kuketahui seorang janda. Yang akhirnya justru dia yang merawatku menggantikan ibuku.
Tempat tinggal kami bukanlah kompleks perumahan. Tetapi ada sedikitnya 20 pondok yang tak bisa diketegorikan tempat tinggal. Masing-masing pondok, tidak ada kamar, tidak tersedia kamar mandi, tidak ada tempat tidur. Tetapi kompor ada. Panci-panci ada. Juga piring dan gelas. Semuanya sering digunakan.
Di lingkungan yang tak jauh dari Jembatan Ampera itulah aku kemudian tumbuh. Sejak dilahirkan tanpa ayah oleh ibuku. Diasuh tetangga yang kemudian sekarang pun kupanggil ibu, sejak ibuku yang kini tak kukenal lagi wajahnya dikebumikan.
Aku dipanggil Yanti. Setiap panggilan Yanti terdengar aku akan menoleh. Aku memang sempat sekolah. Karena ibu angkatku tak sanggup lagi membiayaiku, akhirnya berhenti di kelas II.
Berhentinya aku dari sekolah sangat aku syukuri. Teman-teman sering menertawaiku. Seragamku tak sama dengan lain. Katanya sih, bau lah. Buruk lah. Buku tulisku pun kumal. Karenanya, wajar saja kalau nilai-nilai ku tak ada yang bagus.

Tetapi syukur alhamdulillah, aku sedikit-sedikit bisa berhitung dan membaca serta menulis. Hanya saja, jangan aku disuruh menulis surat atau membaca koran. Tetapi kalau hanya menulis nama, aku bisa. Begitupun menghitung, aku sangat pandai.
Itulah kemudian yang menjadi modalku. Setiap tamuku kucatat namanya. Jumlah bayarannya pun aku ingat.
Tarifku memang tak begitu mahal. Itu sudah termasuk untuk bayar tempat di rumah susun. Biasanya, Ibu Cicih, demikian aku biasa panggil akan meminta bayaran dariku setiap aku mengajak lelaki ke kamar di rumahnya yang terletak di lantai III.
Atau, aku akan menerima uang dari lelaki yang membawaku. Tetapi sewa kamar short time dibayar olehnya. Berapa bayarannya terserah.
Aku tak pernah berpikir apakah perbuatan aku salah atau benar. Yang aku tahu, lelaki teman ibu keduaku yang janda lah yang mengajariku. Awalnya, aku melihat mereka berdua dalam posisi aneh di dalam gubukku tengah malam. Bukan sekali dua, aku melihatnya. Lalu mereka kudengar seperti merasakan sesuatu yang aneh. Sehingga dari mulutnya terdengar seperti orang makan nasi dengan sambal.
Aku merasakan sesuatu yang aneh juga ketika itu. Sampai akhirnya, ketika ibuku itu pergi entah kemana, aku tinggal bersama lelaki yang kemudian aku panggil Udin. Kalau dulu aku melihat Udin dan Ibuku, kini aku merasakan sendiri apa yang mereka rasakan. Sebelum ibuku pergi, aku sempat dua lima kali selama lima bulan mengalami peristiwa yang membingungkan. Setiap bulan, dari tempat aku buang air kecil keluar darah. Sama seperti ketika aku terluka saat aku berlari dikejar kucing. Bedanya, kalau dulu dari dengkul kini dari tempat di atas dengkul.
Tanpa penjelasan, ibuku memberiku kain bekas yang bersih untuk diletakkan di dalam celana dalamku. Pesannya, “Kau sudah gadis. Jaga jangan sampai darah itu tercecer dimana-mana,” ujarnya.
Aku sungguh tak mengerti ketika Udin mendekati aku yang sedang mau tidur. Tetapi aku bisa mengerti bahwa aku mesti menolak perlakuan itu. Aku berontak. Tetapi aku tak bisa menjerit. Karenanya, malam itu aku pun menjadi wanita seutuhnya. Tetapi tak utuh lagi.

Berkali-kali aku melakoni itu Udin pun sangat baik dengan ku. Aku dibelikan bedak. Abang bibir (lipstik). Baju baru. Sendal baru. Aku pun bisa berpenampilan seperti gadis lainnya. Lalu setiap senja datang aku diajak Udin berdiri di pinggir jalan dekat Kambang Iwak.
Udin memang selalu mengawasiku. Tetapi dia tak bisa menghalangiku untuk dekat dengan seorang lelaki yang menurutku ganteng. Dia baik pula. Selalu tersenyum denganku. Dengan Andi, itulah namanya, aku kemudian merasa sangat dekat. Terlebih ketika Udin kudengar ditangkap polisi. Dia katanya sih ditembak karena ternyata dia itulah yang menghabisi ibu.
Menurut orang, ibuku ditemukan sudah menjadi mayat. Dan akhirnya diketahui pembunuhnya adalah Udin. Aku kemudian diajak Andi.
Andi memang baik. Umurnya juga tidak setua Udin. Aku tak tahu rumahnya Tetapi, dia sering main ke gubukku. Bahkan terkadang tidur di gubukku.
Awal-awal hubunganku dengan Andi beberapa kali aku ditangkap orang berseragam. Dinaikkan ke mobil. Begitu juga dengan rekan-rekan wanita ku yang lainnya. Mulanya aku sempat lepas. Melihat teman-teman pada berlari, aku ikut berlari.
Tetapi kemudian, aku tak bisa menghindar. Meskipun sudah berlari, aku tetap bisa ditangkap. Penangkapan pertama, Andi kulihat selalu ada di sekitarku. Aku dihadapkan kepada seorang ibu yangmengenakan baju hitam. Lalu ibu itu, yang beberapa bulan kemudian kuketahui sebutannya adalah hakim, mengetukkan palu. Kulihat, kemudian Andi membayar. Aku lalu dilepas.
Yang kedua, saat aku sedang hamil tua, aku kembali tertangkap. Aku dibawa ke sebuah gedung. Kali ini bukan ibu-ibu yang mengetukkan palu, tetapi seorang laki-laki yang juga mengenakan baju hitam. Saat itu, Andi tak ada. Aku juga tak mengantongi uang.
Ketika aku ditanya bisa tidak membayar Rp 50.000, karena menurut mereka aku sudah dua kali tertangkap, aku menggelengkan kepala. Akupun digiring ke sebuah bangunan berkerangkeng. Aku tak bisa kemana-mana. Tapi setiap hari aku dapat makan. Setelah tiga hari di sana aku baru tahu kalau aku dipenjara.
Saat itu, perutku mules. Terasa sakit diperutku yang memang membuncit. Sampai akhirnya aku tak sadar. Ketika aku sadar aku sudah terguling di kasur. Perutku sudah kempis. Ketika aku bingung, kulihat seorang wanita berpakaian putih memberikan kode bahwa isi perutku sudah keluar. Dia menunjuk gambar di dinding seorang ibu menggendong bayi. Tetapi, bayiku katanya meninggal.
Sebulan aku dipenjara, aku kemudian pulang. Aku dijemput Andi. Dia memelukku. Aku kembali ke rumah. Lebih sering aku tak makan. Karena aku tak bisa mencari uang. Beruntung, Andi sering datang. Aku masih bisa menyambung hidup. Kuhitung-hitung hampir dua bulan aku nganggur.
Sampai akhirnya aku kembali ke jalan. Rutin, kemudian aku dapat lelaki. Terkadang empat sampai lima. Yang paling ramai kalau malam minggu.
Berkali-kali pula aku terkena razia. Dengan yang lainnya, aku didenda lebih besar. Katanya sih karena aku sudah sering ditangkap. Itu tak soal, karena aku punya uang.
Terakhir, ketika Andi juga menghilang. Yang menurut temanku ditangkap polisi karena mencopet di pasar, aku kembali terkena razia. Aku hanya bisa menangis, ketika ibu yang mengenakan baju hakim mengetukkan palu dan menyebut angka 1 juta rupiah.
Aku hanya sanggup menggeleng ketika seorang petugas yang bisa berkomunikasi denganku menanyakan apakah aku anggup membayar 1 juta rupiah Hakim sudah pergi ketika petugas menggiringku masuk penjara karena itulah pilihan yang ada.

Palembang, Oktober 2005

(Dimuat di Sumatera Ekspres, edisi Minggu, 19 November 2006)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar