Sabtu, 21 Februari 2009

Pengantar Penulis-Editor-Tamu

Pengantar Penulis-Editor-Tamu


Dari Penulis




Cerpen-cerpen dalam buku ini terserak dan tersebar di berbagai media dalam rentang 1991 hingga 2008. Kelemahan yang saya miliki, kurang rajin mendokumentasikan karya yang telah dipublikasikan. Sehingga tak semuanya bisa diseleksi. Dari sekian cerpen yang bisa diselamatkan, terpilih sebelas cerpen yang kemudian dihimpun. Melalui antologi ini, semoga karya-karya tersebut bisa memberikan manfaat tersendiri bagi masyarakat sastra kita.
Kritik dan saran sungguh saya harapkan. Semoga ke depan bisa menjadi pijakan untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Inspirasi dan diskusi dengan beberapa rekan jurnalis maupun pendidik telah membuat tekad saya semakin bulat untuk membukukan karya-karya saya, dan itu ternyata terealisasi dalam ”Cerpen Koran Muhamad Nasir, Kaos Politik”.
Kalau saya boleh berpantun: Makan permen di atas Ampera, Kulitnya jangan dibuang ke Musi, Muatan cerpen hanyalah ceritera, Dijadikan buku moga jadi insiprasi.
Tanpa dukungan dan peran serta dari berbagai pihak, tentunya tidak akan mungkin karya-karya saya bisa dihimpun menjadi sebuah buku. Untuk itu, pada kesempatan ini, saya ucapkan terimakasih kepada:

Arif Ardiansyah, SS, SH yang telah merelakan waktu dan tenaganya menjadi editor. Semoga kerjasamanya bisa terus berlanjut, Bung;

Dr. Rita Inderawati Rudi, M.Pd, Dosen Pascasarjana Unsri dan Asisten Direktur Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, yang telah menyempatkan di sela-sela kesibukannya membaca cerpen saya. Terima kasih komentarnya, Bu;

Drs. B. Trisman, M.Hum, Kepala Balai Bahasa Palembang, yang juga telah membela-bela menyisihkan waktunya di saat kesibukannya mempersiapkan kegiatan bulan bahasa untuk membaca cerpen saya dan memberikan kritikan. Semoga, ini bukan buku fiksi yang terakhir, Pak;

Bang Bangun Paruhuman Lubis, wartawan Suara Pembaruan, senior yang telah membangkitkan semangat saya untuk menerbitkan buku. Akhirnya, semangat itu membuahkan hasil, Bang;

Teman-teman di Program Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, yang telah memberikan inspirasi dan dukungan saat saya hampir patah arang. Mudah-mudahan, kita semua semakin bersemangat;

Media massa yang telah memuat dan mempublikasikan cerpen-cerpen saya: Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Sinar Harapan, Agung Post, Tabloid Desa, dan Media Publik.

Rekan-rekan di AKK, Eddi Boy, Habibullah, dan lainnya yang rela lembur dan begadang hingga malam buta. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan imbalan untuk kebaikan umat-Nya.

Serta berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu.


Hormat,

Penulis












Cerpen koran, Wartawan dan Ideologi








Ketika dimintai menjadi editorial buku ini, sulit untuk memulainya dari mana, maklum bukunya cukup berat menyangkut karya sastra walaupun hanya kumpulan cerita pendek. Sebab karya sastra menyangkut aspek kebudayaan dan karya sastra bukanlah aspek kebudayaan yang sederhana. Ia merupakan suatu organisasi atau susunan yang sangat majemuk dari suatu wujud yang berlapis-lapis serta beraneka ragam makna dan sifat sangkut-pautnya. Oleh karena itu, secara definitif pengertian sastra sulit dirumuskan, namun secara intuitif dapat dipahami gejalanya.
Salah satu bentuk karya sastra adalah cerita pendek. Cerita pendek atau cerpen merupakan suatu karya sastra yang mulai berkembang dalam dunia sastra Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya media cetak yang menempatkan kolomnya untuk cerpen, banyak buku-buku cerpen terbit baik yang ditulis oleh beberapa penulis maupun seorang penulis.
Cerita pendek dicirikan dengan beberapa hal, secara fisik pendek, adanya sifat rekaan (fiction), dan adanya sifat naratif atau penceritaan (Sunarto dalam Sumarlan dkk:2003). Bentuk fisik pendek bukan dengan kualifikasi halaman tertentu, tetapi mengarah pada pemadatan isi. Sifat rekaan mengandaikan adanya suatu peristiwa, apakah benar-benar terjadi atau hanya rekaan yang dijadikan dasar penulisan cerita, sedangkan sifat naratif mengharuskan cerpen tampil secara utuh sebagai sebuah cerita namun singkat yang membedakan dari sebuah berita jurnalistik yang informatif, feature yang argumentatif atau laporan-laporan perjalanan yang bersifat ekspresif.
Bentuk sastra koran mengacu pada semua bentuk karya sastra yang diterbitkan di koran. Istilah sastra koran mengacu pada prosa (novel, cerpen), puisi, atau drama yang dimuat dalam koran.
Perkembangan kesusastraan Indonesia erat kaitannya dengan keberadaan surat kabar. Sebagian besar karya para sastrawan kita terlebih dahulu dipublikasikan melalui surat kabar, baru kemudian dibukukan baik berupa kumpulan puisi atau kumpulan cerpen biasanya berasal dari puisi-puisi atau cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai media massa. Novel biasanya berasal dari cerita bersambung. (Jassin; 1994).
Selain karya yang bersifat rekaan pengarang, koran juga menyediakan ruangan untuk karya berupa esai dan kritik sastra .Berita atau tulisan tentang sastra dan aktifitasnya.
Jassin (1994) mengemukakan ruangan sastra dan budaya yang kadang-kadang disediakan khusus di berbagai surat kabar ini, memunculkan karya sastra yang cukup bermutu. Sering karya-karya itu kurang diperhatikan oleh para pengamat sastra. Mereka cenderung meneliti karya-karya yang sudah dibukukan, padahal tidak semua karya yang baik mendapat kesempatan untuk dibukukan.
Surat kabar umum yang mapan dan memiliki tiras yang cukup baik biasanya mempunyai rubrik seni dan budaya . Rubrik ini biasanya terbit setiap hari Minggu, atau akhir pekan dengan jumlah satu sampai dua halaman koran. Beragam artikel ditulis pada rubrik tersebut, seperti cerita pendek, cerita bersambung, puisi, hiburan pop, esai, kritik sastra, dan peristiwa-peristiwa budaya lainnya.
Penerbitan cerpen di koran berpengaruh pada frekuensi penerbitan, wilayah penyebaran cerpen dan frekuensi perbincangan mengenai cerpen dan berpengaruh pada struktur baik aspek bahasa maupun sastranya. Demikian pula halnya dengan pemilihan tema cerpen, kemungkinan besar dipengaruhi oleh prinsip aktualitas pemberitaan koran. Kemungkinan-kemungkinan ini menunjukkan bahwa sastra koran memiliki kemungkinan yang besar memiliki karakteristik yang khas.
Cerpen koran memberi peluang bagi pemahaman fenomena aktual sastra Indonesia secara lebih luas, karena pertimbangan nilai aktualitas berita dalam pemberitaan koran, kemungkinan besar mengakibatkan cerpen yang dipilih untuk diterbitkan juga mengandung unsur-unsur yang aktual. Dengan kata lain salah satu nilai khas dari cerpen koran adalah keaktualannya. Istilah sastra koran mengacu pada karya sastra dalam lingkup tertentu, yaitu dunia koran dan cerpen koran. Sastra koran merupakan bagian kehidupan sastra yang penting dan menarik untuk dijadikan objek studi, karena memuat hal-hal yang aktual, baik gaya pengungkapan, topik pembahasannya, maupun pemikiran-pemikiran yang terkandung di dalamnya.
Mahayana (2005) menyatakan karya sastra yang dimuat di berbagai surat kabar harus dilihat dalam konteks teori sastra makro. Teori ini beranggapan karya sastra sebagai hasil produksi tidak lepas sistem lain yang melingkarinya. Dalam hal itu, karya sastra diterima pembaca, tidak begitu saja datang dari langit yang dibawa para malaikat. Ia hadir melalui sebuah proses yang rumit yang sering lebih penting daripada karyanya sendiri.
Dalam teori sastra makro, dunia sastra diperlakukan sebagai sebuah sistem yang mencakup karya sastra sebagai hasil produksi, pengarang sebagai individu profesional yang menghasilkan karya sastra, dan penerbit sebagai lembaga yang memungkinkan karya sastra dapat direproduksi dan didistribusi. Selain itu adapula pembaca yang terdiri dari pembaca pasif (penikmat) dan pembaca aktif (pemberi makna) karya bersangkutan.
Sebagai sebuah sistem sastra makro, kedudukan pengarang sama pentingnya dengan pembaca atau penerbit. Tanpa pengarang, mustahil karya sastra ada. Tetapi bermaknakah karya sastra itu jika ia tidak dibaca sama sekali. Jadi, karya sastra, baru mempunyai makna jika ada yang membaca di luar diri pengarangnya sendiri. Dengan perkataan lain, fungsi sosial karya sastra, baru hadir jika ada pembacanya.
Penerbit dalam hal ini surat kabar sebagai lembaga yang mereproduksi dan mendistribusikan karya sastra (cerpen), menampakan fungsi sosialnya jika karya yang direproduksi dan didistribusikannya menjangkau jumlah pembaca yang banyak dan wilayah yang luas. Dengan itu, ia menjadi penyambung lidah pengarang, mengangkat harkat dan popularitasnya, serta secara ekonomi, memberikan penghidupan bagi pengarang (Mahayana, 2005).
Dari sudut pandang sosiolinguistik, media cetak khususnya surat kabar berhubungan erat dengan pemakaian variasi bahasa berdasarkan aspek pemakaiannya. Dalam aspek ini ragam jurnalistik mempunyai ciri tertentu, yaitu bersifat sederhana, komunikatif dan ringkas; bersifat ringkas karena keterbatasan ruang dan keterbatasan waktu (Chaer dan Agustina,2004).
Lantas, bagaimana jika penulis cerita pendek adalah juga seorang jurnalis atau wartawan yang notabene adalah orang yang sehari-hari bergelut dengan informasi yang membuncah. Apakah yang ditulis itu fakta atau fiksi. Dari sekian banyak jurnalis yang saya kenal hanya segelintir yang intens menulis cerita pendek, kalau mau menyebut diantaranya ada Taufik Wijaya (Detik.Com), Apan (Okezone.Com), Anto Narasoma (Sumatera Ekpress), Imron (eks jurnalis Radio). Bagi saya, jurnalis yang bisa menulis cerita pendek dan berani mempublikasikan karyanya ke media massa adalah jurnalis cum
Muhamad Nasir boleh jadi bukan bagian dari yang jurnalis yang ajek menulis cerita pendek, buktinya kumpulan cerita pendek ini dikumpulkan dengan rentang waktu yang cukup panjang dari tahun 1991 sampai sekarang. Lalu, apa penting kumpulan cerpen ini dibukukan, bagi saya teks adalah sesuatu yang mutlak, teks dalam bentuk buku bisa awet sampai kapan pun . Dari sisi akademik buku bisa menjadi satu referensi dan menjadi bahan kajian juga.
Dari rentang waktu yang panjang itu, begitu banyak tema yang ditulis Nasir dari persoalan remaja , perjuangan, pendidikan, sosial dan politik . Uniknya hanya satu cerpen yang membahas dan bercerita tentang profesi yang digeluti penulis yaitu ‘Mimpi Pun Usai’, bercerita tentang seorang tokoh jurnalis idealis miskin dan kere disebuah koran lokal. Dan berakhir tragis, sayang kematian itu bukan karena konflik pemberitaan tetapi ditabrak lari usai diputus kontrak dari koran dimana sang jurnalis Djakfar bekerja.
Selain itu juga tergambar ideologi dari penulis dan keberpihakannya kepada profesinya.
”Saya tidak bisa menikmati hidup dengan memanfaatkan ketakutan orang-orang. Atau mengambil manfaat dari orang yang ingin dipuji-puji dengan tulisan yang manis-manis dan mampu membubung ke langit,” kata Djakfar. (Mimpi Pun Usai)


Kutipan itu menyiratkan sebuah pilihan yang mesti dipilih oleh jurnalis di dalam menjalankan profesinya sebagai jurnalis. Dalam cerita pendek Mimpi Pun Usai terlihat jelas ideologi yang disampaikan pengarang melalui tokoh-tokohnya dan keberpihakan pengarang dalam profesinya.

Perubahan istrinya yang drastis membuat Djakfar tidak bisa menerimanya dan menjadi sangat terpukul, tetapi tidak membuat wartawan itu kehilangan akal sehat. Di luar rumah, dalam menjalankan pekerjaannya, tetap saja sebagai wartawan yang baik dan jujur. Kejujurannya itu sudah diketahui teman-teman seprofesinya, dan mereka menyebutnya sebagai wartawan yang idealis dan tak kenal kompromi. Alias bodoh. Meskipun ia sering mendengar julukan itu ditujukan kepadanya, tidak membuatnya tersinggung karena ia berpikiran sebaliknya, rekan-rekannyalah yang keliru.
Kekeliruan mereka adalah kekeliruan seorang manusia yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikiran dan mimpi-mimpinya, sehingga semua yang mereka lakukan dikerjakan tanpa memedulikan hati nurani.


Pada kutipan di atas, terlihat suasana batin dari tokoh Djakfar dalam memaknai profesi dan kehidupannya.
Pandangan-pandangan dan nilai-nilai yang terkandung dalam kumpulan cerpen itu bisa mengambarkan ideologi dari pengarang melalui karakter tokoh, latar, dan alur cerita. Sebab ideologi di sini akan lebih diperlakukan sebagai sistem kepercayaan, nilai-nilai, kategori-kategori yang menjadi acuan dalam memahami, menanggapi, dan menerangkan setiap masalah hidup. Ideologi merupakan pandangan dunia (world view) .
Akhirnya, kumpulan cerita pendek ini hadir untuk menambah sederet buku sastra khususnya genre cerpen di blantika buku sastra yang tidak begitu banyak diterbitkan di kota ini. Selamat membaca.

Arif Ardiansyah
editor




















Cerpen Koran, Audiencenya SiApA SaJa




Sastra koran atau sastra cyber, duluan mana ya? Rasanya baru dua tahun terakhir ini berhembus angin segar sastra cyber, dapur sastra di dunia maya bercokol, media penyaluran bakat cerpenis yang karyanya ditolak redaktur media masa. Di hadapan saya tertata apik cerpen korannya Muhamad Nasir. Sama nggak ya esensinya dengan sastra Koran.
Ada rasa kuatir plus bangga menyeruak ketika penulis cerpen koran ini hadir di hadapan saya dan menyodorkan satu draft cerpen korannya yang tercecer di berbagai media masa antara tahun 1991 hingga kini. Kuatirnya, emangnya bisa ngomentari cerpen sang jurnalis? Saya bukan pekerja seni, sastrawan, jauh … tapi saya akademisi pencinta seni, nyanyi dan jadi polisi saat satu komunitas menjalankan aksinya, memreteli karya sastra. Bangganya, ya iyalah … profesi saya kan mengamati satu komunitas ngotak-ngatik dan memreteli karya sastra SESUKA HATI mereka (biasanya sih cerpen Inggris). Kadang komunitas sastra itu “bergaul intim” dengan cerpen yang sama, kadang juga mereka “bermesraan” dengan cerpen yang dikondisikan berbeda-beda. SESUKA HATI tapi tetap dalam koridor aturan yang baku namun BEBAS, suka-suka bicaranya atau nulisnya, bebas terikat.
Kalau saya boleh berkomentar (tapi cukup kamu saja yang tahu…) cerpen koran yang kamu bendel ini artinya cerpen yang pernah diterbitkan di media masa, yah … tiap akhir satu cerpen kamu tulis “mulung” dari mana cerpen itu. Tapi, saya kan akademisi, yang ngajarin mahasiswa apresiasi karya sastra Inggris dan pernah satu semester berbaur dengan mahasiswa Bahasa Indonesia, kawan senasib dan seperjuangan penulis cerpen koran ini. Sayangnya, saya hanya kebagian satu sesi akhir saja untuk berceloteh tentang apresiasi karya sastra yang meletakkan peran pembaca pada posisi puncak saat menggaulinya. Karena akademisi, saya ingin karya cerpen kamu bisa tuh… dipakai siswa SMA atau mahasiswa.
Setelah puas baca beberapa cerpen, jujur nih … belum “kebaca” semuanya saya mulai paham apa cerpen koran itu. Biasanya, temanya berkisar kehidupan sehari-hari, panjangnya sekitar 5-9 halaman, tokoh ceritanya irit/sedikit, dan ada yang lupa nih… ya diterbitkan di koran. Tapi … koran lokal yang saya beli nggak ada tuh cerpennya? Penasaran, saya telpon mantan mahasiswa saya yang hari-harinya ngelemparin koran ke rumah pelanggan. Katanya, kolom cerpen ada di hari Minggu. Angka nol kecil terbentuk, pantes … nggak pernah beli koran Minggu sih.
Sampe sini, saya melongo lagi. Kok wacana saya kayak gini, nggak terasa sedikitpun harum-harumnya akademis. Capek deh, nulis makalah terus. KAKU. Sekali-sekali “nyeleneh” gini, asyik. Ampun Tuhan, ini gaulnya komunitas sastra, bebas berbicara tapi terikat pada norma aturan dan moral, meninggikan derajat, mendekatkan diri pada sang Pencipta, dan mengeyahkan arogansi keilmuan yang terkadang bertengger kokoh dan sombong.
Tentang sastra koran, saya tidak berani berkomentar banyak. Masa remaja saya isi dengan membaca cerpen dalam majalah Gadis, saat dewasa saya membaca juga cerpen di majalah Kartini dan Femina, dua majalah yang berjaya cukup lama dan memberi peluang dan ruang yang cukup bagi cerpenis untuk berekspresi dan bereksplorasi. Ruang yang cukup besar membantu cerpenis untuk meronta-ronta liar, mengeksplorasi dan mengekspresikan cerpen majalah adalah tempat persemaian cerpen-cerpen sebelum mereka menjalar ke koran dan berakhirlah kedigjayaannya.

Niat cerpenis koran ini membukukan cerpen korannya bukan dengan tidak ada maksud terselubung di balik semua itu. Sang jurnalis, cerpenis juga memang sedang giat-giatnya di forum akademik. Akankah mungkin di masa mendatang iapun menulis karya-karya ilmiah populer di koran dan dibukukan sebagaimana Alwasilah, Guru Besar UPI yang kesohor dengan buku Pokoknya Menulis. Dan karya-karya itu dipakai sebagai bahan ajar di kampus. Ya, hanya di kampusnya, mahasiswanya sendiri. Kampus lain dengan alasan agoransi keilmuan, MUNGKIN tidak memakainya. Cerpen koran Nasir ini, siapa audiencenya? SiApA SaJa!

Cerpen koran Nasir ini dapat dimanfaatkan oleh pelajar dan mahasiswa. Karya sastra tidak cukup untuk dibaca. Ia juga tidak cukup untuk diapresiasi atau dipreteli satu-satu unsur-unsur pembangunnya. Lupakan paradigma lama itu. Awali apresiasi sastra dengan mengaplikasikan respons pembaca sebagai paradigma baru yang tidak hanya menajamkan aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dengan cara merinci isi cerpen, menjelaskan perilaku tokoh cerita dan mengekspresikan sikap pembaca terhadap perilaku itu, memahami mengapa tokoh cerita berkelakuan seperti itu, menyertakan perasaan, pikiran, dan imajinasi pada tokoh cerita, menghubungkannya dengan pengalaman, cerita lain, film, budaya, kehidupan sosial, serta agama, menafsirkan isi cerita, dan menilai cerita, pengarang, serta membincangkan nilai-nilai moral yang dibangun lewat cerita. Dengan demikian critical thinking siswa/mahasiswa dan kesadaran budaya mereka dapat terbangun.

Bagi saya, karya tulis, fiksi atau non fiksi merupakan aset penulisnya. Karya tulis, Rusyana, Guru Besar UPI beranalogi, adalah bendera yang dikibarkan penulisnya. Kemanapun ia pergi maka masyarakat akan mengetahuinya lewat bendera itu. Tetaplah berkiprah di sastra koran dan membukukannya. Enyahkan rasa pesimis yang senantiasa bergelayut di pundak dan memiskinkan kreativitas berpikir. Enyahkan rasa bersalah saat koran dijadikan pembungkus pisang goreng, toh kolom yang berbasis politik, ekonomi, dan sebagainya juga bernasib sama. Yang paling penting, sastra koran itu ADA. Cari celah buku ini dapat menarik simpati kaum pendidik yang terdidik untuk memanfaatkannya mengembangkan nalar dan kreativitas siswa/mahasiswa serta turut menajamkan aspek afektif (emosionalnya).

Wassalam,
Rita Inderawati Rudy









Ketika Penulis Bersaksi:
Sekapur Sirih untuk Antologi Kaos Politik




Karya sastra –pada hakekatnya—merupakan ekspresi pengalaman manusia secara menyeluruh tentang hidup dan kehidupan atau tentang manusia dan kemanusiaan. Hakekat seperti itu memberi peluang kepada penulis memotret manusia dengan segala sisi kemanusiaan dan kemudian menuangkannya ke dalam buah ciptanya. Kelahiran karya sastra diilhami oleh berbagai kondisi manusia, seperti persaudaraan, penderitaan, cita-cita, perjuangan, dan sebagainya.Realitas kehidupan yang dialami manusia, lengkap dengan berbagai nilai yang terkandung di dalamnya, direkam pengarang dan diolah sedemikian rupa. Kemudian, realitas tersebut diekspresikan pengarang dalam gaya dan bentuk khas yang kemudian disebut dengan karya sastra. Tentu saja setelah hadir dalam karya sastra, realitas-realitas itu hadir sebagai kenyataan fiktif karena berada dalam wadah yang disebut karya fiksi.
Menurut A. Teeuw, setelah sebuah karya sastra itu hadir-termasuk sajak-akan menjadi artefak (benda mati) yang baru mempunyai makna dan menjadi objek estetik jikadiberi arti oleh pembaca, sebagaimana artefak peninggalan purba mempunyai arti bila diberi makna oleh seorang arkeolog. Dengan demikian, sebuah karya sastra tidak akan bermakna atau bernilai jika tidak diberikan arti atau diungkapkan maknanya oleh pembacanya. Dalam kaitan dengan itu, penulis dan pembaca sama-sama memiliki tanggung jawab yang bersinggungan makna. Pengarang menebarkan makna melalui untaian kata-kata, sedangkan pembaca menggali makna dari untaian kata-kata pengarang tersebut.
Menarik membaca cerpen-cerpen karya Muhamad Nasir yang terhimpun dalam antologi yang diberi tajuk Kaos Politik. Sebagai sebuah karya fiksi, kenyataan-kenataan yang dilukiskan dalam cerpen-cerpen ini adalah kenyataan fiktif. Namun, Muhamad Nasir –sebagai penulis—adalah bahagian dari komunitasnya dan bersinggungan langsung dengan kenyataan-kenyataan yang berlangsung di sekitar kehidupannya. Kenyataan-kenyataan inilah yang menjadi bahan renungan yang kemudian disublimasi sebelum dituangkan ke dalam karya ciptanya.
Sebelas cerpen dihimpun dalam antologi ini. Dalam daftar isi, pengarang sudah membantu pembaca dalam mengategorikan cerpen-cerpennya. Dari sebelas cerpennya, penulis mengategorikan empat cerpen sebagai karya demokrasim tiga cerpen merupakan gambaran sosial, satu cerpen tergolong bermuatan pendidikan dan satu cerpen bernuansa cinta. Terlepas dari penggolongan itu cerpen-cerpen Muhamad Nasir yang terhimpun dalam antologi ini menghadapkan pembaca pada penyuguhan akan pengenalan dan penghayatan terhadap atmosfer kehidupan yang pernah disaksikannya. Meskipun secara jelas penulis mengategorikan cerpen-cerpennya menurut isinya, muatan utama cerpen-cerpen itu lebih condong pada persoalan sosial. Situasi sosial akibat dari sebuah politik digambarkan dalam cerpen-cerpen yang berada pada payung demokrasi.
Selanjutnya, persoalan sosial masyarakat dilukiskan dalam tiga cerpen yang berjudul ”Di Bawah Jembatan”, Bertopeng Gincu”, dan Mimpi pun Usai”. Nasib tua mantan pejuang digambarkan dalam cerpen yang berjudul ”Di ujung Hari” dan Menutup Hari”. Sementara itu, nasib seorang guru bantu dilukiskan dalam cerpen berjudul ”Pilihan Sarjan”. Satu-satunya cerita yang ber nuansa cinta adalah cerpen ”Cinta Kingkong”. Dialog tokoh dalam cerpen ”Cinta Kingkong” mrnggunakan dialek Melayu Palembang.
Perenungan atas hidup dan kehidupan manusia digambarkan Muhamad Nasir dengan gaya yang khas. Persoalan yang menjadi pumpunan penceritaan sebetulnya sangat sederhana. Selajutnya, persoalan yang sederhana itu dikisahkan dengan cara bercerita ”diaan”sehingga memberi peluangan para tokoh untuk berkreasi lebih bebas. Cerita mengalir mengikuti alur cerita dengan penggunaan dialektika bahasa yang tidak sulit dimengerti.
”Bertopeng Gincu” merupakan salah satu cerpen Muhamad Nasir bernuansa sosial dengan menggunakan simbol. Banyak hal yang menyebabkan seseorang menyembunyikan keaslian dengan sebuah kepalsuan (topeng) itulah yang digarap Muhamad Nasir dalam cerpen ini dengan menghadirkan tokoh dan penokohan seorang gadis belia. Oleh karena dihimpit persoala sosial juga, sang gadis rela ”bertopeng” demia sebuah capaian keinginan.
Muhamad Nasir merupakan salah seorang penulis Sumatera Selatan yang turut memperkaya khazanah sastra Indonesia modern dengan karya-karya yang berbentuk cerpen. Cerpen-cerpen Muhamad Nasir yang terhimpun dalam antologi ”Kaos Guruku” ini sebelumnya pernah dimuat di beberapa surat kabar dan tabloid, baik lokal maupun nasional.
Kehadiran antologi ini yang jelas menambah semarak khazanah sastra Indonesia umumnya. Sumatera Selatan khususnya. Namun khalayak sastra berharap agar Muhamad Nasir terus berkarya dan menghadirkan nuansa-nuansa kehidupan melalui karya-karya selanjutnya.

Palembang, Agustus 2008


B. Trisman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar