Senin, 26 April 2010

cerpen - Pelangi di Ampera

cerpen - Pelangi di Ampera



Di Bawah Jembatan

Oleh
Muhamad Nasir


Hari masih pagi, matahari seperti enggan menampakkan kegarangannya. Tetapi lelaki separo baya dengan keruntung* di bahunya itu tampak bersemangat mencari tempat yang sepi. Untuk dia duduk, menggelar  koran bekas yang memberitakan penggusuran, lalu diletakkannya keruntung. Dan mulailah dia memasuki babak baru yang tenang. Mimpi.

Suara dengkurnya tidak pernah disadarinya dan diketahuinya.  Tidak seperti para pejabat yang beruntung diberitahu oleh istrinya bahwa dia mendengkur. Meski awalnya akan marah karena biasanya dia selalu menertawai bawahannya yang tidur mengeluarkan liur** dari sela bibirnya dan mendengkur saat rapat di kantornya. Sang istri akan disembur kalau menyebutnya seperti itu.

Ini berbeda dengan lelaki yang dulu pernah punya istri tapi jarang digaulinya dan jarang bersemuka. Karena dirinya harus meninggalkan wanita itu di malam pertama, usai akad nikah tanpa pesta perkawinan. Dia harus buron karena perbuatannya sendiri merampok, menggarong, dan perbuatannya tercium petugas. Ternyata biaya nikah dan menghidupi istri dan keluarga istrinya atas perbuatannya itu.

Ada memang, dua minggu setelah itu dia kembali ke rumah mertuanya sembunyi-sembunyi di malam hari. Selama dua bulan, dia aktif mengetuk pintu di malam hari. Perasaan was-was menggelayutinya. Sehingga meski kewajiban untuk kebutuhan lain-lainnya selalu rutin, kebutuhan biologis terkadang tak terlaksana. Kalaupun bisa, cuma sekedarnya. Sampai akhirnya  karena kondisi sangat tidak memungkinkan, desa tempat kelahirannya di  daerah Muaraenim yang berjarak sekitar 150 km dari Palembang pun ditinggalkan sepenuhnya. Yang mencarinya bukan cuma polisi tetapi juga para korban yang sebagian ada yang sempat mengenalinya ketika beraksi.

Kini di perantauannya telah belasan tahun dia tak pernah melihat rupa istrinya, Arlena. Entah masih merasa menjadi istrinya, sudah pernah menimang bayi atau sudah menjadi istri orang.

Dalam tidur pun, lelaki yang jarang dipanggil namanya karena dia lebih sering dipanggil dengan sebutannya, tukang keruntung, tak pernah memimpikan istrinya. Meskipun kalau tertidur dia selalu nyenyak dan tak pernah absen bermimpi.  Memang, suara bising kendaraan yang lalu lalang  di atas Jembatan Ampera, entah itu motor kreditan atau mobil mewah, baginya itu tak mengusik. Dia selalu lancar bermimpi.

Mimpinya selalu indah. Meski terkadang  sedikit menyeramkan. Tak seperti hidupnya yang terlunta-lunta, tak sedikit pun indah, bahkan semuanya suram. Tak ada tempat berteduh, kecuali di tempat-tempat umum yang sepi. Bukan tempat-tempat sepi yang umum. Yang biasa digunakan orang-orang berduit. Yang biasanya bosan tidur di rumah, lalu menginap di hotel.

Dalam mimpinya kali ini, Djakfar melihat dengan jelas dia menjadi walikota. Lalu dengan kekuasaannya dia memanfaatkan jembatan bukan sekadar  untuk tempat berteduh dari matahari  pagi atau dari hujan yang datangnya terlalu cepat.

Dia mengubah aturan yang ada. Kalau sebelumnya tidak boleh berjualan di atas jembatan yang dibangun dengan biaya pampasan perang Jepang itu, kini diperbolehkannya. Menurutnya itu sesuai dengan nama jembatan, Amanat Penderitaan Rakyat yang disingkat Ampera. Asal membayar karcis melalui retribusi dan menambah kas daerah yang kemudian digunakan untuk mengusir pedagang kaki lima, menggusur pengemen atau mengembalikan pengemis ke asalnya, di desa sana, maka semuanya tidak ada yang tidak boleh.

Kalaupun ada larangan yang diatur melalui peraturan daerah diputuskan oleh dewan perwakilan rakyat, maka dia berani membuat aturan istimewa. “Itu namanya, aturan khusus,” ujar Djakfar kepada para pendemo yang menolak keputusannya.

“Seperti keputusan saya menerima kalian para pendemo yang melakukan aksi di saat hari libur. Kan mestinya tidak boleh mendemo saya saat saya sedang lembur hari ini. Besok saja, mestinya. Tetapi saya akan salah kalau tidak menerima warga yang telanjur datang. Padahal, kamu kan mestinya tidak harus datang ke saya. Datangi saja, ketua RT yang telah membantu petugas pendataan. Mereka itu yang membuat nama-nama kalian tidak masuk daftar penerima dana kompensasi  BBM,” ujar Djakfar berwibawa yang saat itu mengenakan safari lengkap dengan kopiah ketika menerima warga miskin memprotes  banyak orang kaya yang menerima, sementara mereka yang miskin justru tidak terdata. Sehingga tidak bisa ikut antre di kantor pos untuk mencairkan duit yang jumlahnya lumayan.

Yang lebih menyakitkan lagi, mereka yang antre di kantor itu banyak yang pakaiannya mahal. Sakitnya lagi, begitu mendapat dana itu, mereka langsung menghabiskannya di pasar swalayan. Sebenarnya sama juga seperti mereka yang miskin namun beruntung terdata dan bisa mengantongi uang itu. Umumnya mereka pun langsung menghabiskan uang tersebut untuk belanja-belanja. Mumpung ada duit.

Walikota sendiri saat itu tidak melihat Djakfar ada dalam rombongan warga itu. Padahal, sebagai tukang keruntung, dengan penghasilan yang sangat kecil bahkan untuk membeli kompor pun tak sanggup, dia tergolong individu prasejahtera. Bukan keluarga prasejahtera karena setahu orang  memang belum berkeluarga.

Memang, saat itu Djakfar sengaja tak ikut karena dia bermain dua kaki. Sebagai pemimpi sekaligus pemimpin, sang walikota. Sebagai tukang keruntung,  Djakfar rutin mengunjungi  warung kopi yang tak beratap di pinggir Sungai Musi. Kalau ada duit  dia memesan  kopi cangkir besar. Lalu mengambil  pisang goreng. Kalau lagi buntu, dia memesan air putih panas, lalu mengambil serpihan pisang goreng.

Warga yang tak melihat respon walikota, tapi mengartikan sika pemimpinnya itu hanya berkilah, menjadi emosi. Lemparan batu pun bertubi-tubi. Masih untung, puluhan polisi pamong praja langsung mengelilingi Djakfar. Para asisten dan kepala dinas  juga ikut memasang punggung. Sehingga lemparan itu tak mengenai target. Tetapi badan dan kepala pelindung walikota tetap kena. Benjol dan berdarah. Walikota sendiri selamat. Tetapi dia justru tertimpa rubuh pelindungnya yang berjatuhan menimpanya. Untung Djakfar terbangun.

Dia mengusap matanya. Kepalanya mendongak ke atas. Suara gemuruh seketika terdengar. Rupanya suara teriakan warga perkampungan Arab di Ulu dan Ilir Palembang sangat keras. Dengan terbangan*** mengiringi  lagu padang pasir mereka pun berorasi bergantian.

Menolak pembangunan  jembatan  baru yang direncanakan pemerintah dan bakal menggusur kampung mereka. Rencananya warga dari Ilir Palembang menjemput warga Ulu Palembang di atas Jembatan Ampera. Lalu mereka bersama-sama berorasi di atas jembatan Ampera yang kini namanya kalah besar dibanding merek rokok yang bereklame di salah satu tiang pancangnya yang menghadap ke kota.

Para pendemo yang berjenggot an berkumis serta rata-rata berhidung mancung dan umumnya mengenakan sorban ini pad apoin pertama tuntutannya mempertanyakan kenapa pemerintah  tidak pernah membangun Musi I.  Dan kini setelah membangun Musi II lalu berencana membangun Musi III. Poin kedua juga begitu. Dan poin ketiga tuntutan itu juga sama bunyinya.

“Harusnya konsisten dong. Jangan loncat-loncat dari II ke III tanpa ada I. Kalau naik tangga, bisa kepleset. Mencari uang boleh, tapi ente jangan begitu dong caranya,” teriak koordinator aksi yang tak mau menyebut identitasnya kepada wartawan, padahal namanya tertulis di bed nama yang tergantung di lehernya. Sayang sang wartawan tak bia membaca tulisan Arab, nama itu pun tak diketahuinya.

Jumlah pendemo makin bertambah, jembatan makin sesak. Wajar Djakfar pun berlari melintasi Nusa Indah melihat langsung dari dekat suasana demo.

Kepala Dinas Perhubungan yang ditanya wartawan membuat pernyataan, inilah perlunya membangun jembatan baru. Kalau ada demo seperti ini, sopir tidak menyumpah serapah karena jalanan macet. Kalau Musi II macet juga, masih ada Musi III.

Sayang, keesokan dapati dipastikan pernyataan pejabat itu tidak ditulis wartawan karena beritanya dikalahkan oleh banyaknya korban yang berjatuhan saat demo.

Tak lama kemudian, tiba-tiba baliho bergambarkan merek rokok yang sudah terpasang  selama lebih kurang tiga bulan  runtuh mengeluarkan suara yang bergemuruh. Bisa dibayangkan, para pendemo pun bubar dengan sendirinya tanpa diminta. Tuntutan mereka belum sempat didengar walikota maupun gubernur  dan juga anggota dewan.

Sebagian tak sempat menyelamatkan diri. Ada yang berdarah-darah, tertimpa baliho  dan kerangka besinya. Ada yang patah kaki dan tulangnya. Ada yang tewas seketika. Dan banyak juga yang meninggal karena terinjak-injak.

Ambulans tak bisa mencapai lokasi karena dertean kemacetan cukup panjang. Kalau ke arah pasar mencapai Km 5. Ke arah Kertapati mencapai Stasiun Kertapati dan ke arah  Plaju mencapai Nagaswidak. Sementara ke arah Jakabaring mencapai Stadion Gelora Sriwijaya.

Djakfar lah yang kemudian mengerahkan  rekan-rekannya yang tidak banyak lagi sejak Pasar 16 Ilir digusur dan dipindahkan ke Jakabaring, untuk mengangkut para korban. Awalnya teman-temannya enggan membantu kecuali dengan perjanjian satu kali mengangkut ongkosnya berapa. Ditentukan terlebih dahulu. Lalu pembayarannya dipastikan di muka atau di belakang atau di bawah tangan. Djakfar yang berpengalaman menjadi walikota dalam mimpinya terpaksa berorasi sebentar dan menjanjikan  bahwa para tukang keruntung nanti akan dibayar dengan kupon kompensasi BBM.

Para tukang keruntung berlari membawa keruntungnya. Mereka spontan tergerak membantu bukan karena janji akan dibayar tetapi lebih kepada sentuhan nurani melihat para korban  yang berkaparan. Belum tuntas Djakfar berbicara sebagian sudah mengangkut korban.

Bantuan terpaksa manual. Para korban diangkut berlari dengan keruntung. Tempat terdekat  Rumah  Sakit Benteng. Setelah penuh, ke Charitas. Baru setelah itu ke Rumah Sakit Umum yang sebagian dokternya sedang mogok kerja menolak keberadaan direktur utamanya. Untung, ruang emergency masih buka. Terakhir ke RS Siti Khadijah. Tidak muat, kemudian ke rumah bersalin-rumah bersalin yang ada.

Proses pengangkutan ini sendiri tidak lancar-lancar seperti yang dibayangkan. Karena mereka tak pernah mendapat pelatihan. Apalagi, banyak tukang keruntung yang tidak hapal jalan menuju rumah sakit dimaksud. Belum lagi, keributan sempat terjadi  karena   penentuan lokasi  ternyata tidak sesuai dengan prosedur mestinya dikirim ke rumah sakit umum dulu, kalau sudah tak mampu dan tak tertampung baru ke rumah sakit lainnya. Kali ini memang semuanya menggunakan logika terbalik dan serabutan.

Berkat bantuan tulang keruntung dan kepiawaian petugas mengatur lalu lintas  akhirnya lalu lintas menjadi lancar. Barulah suara sirine ambulans terdengar di dekat Jembatan Ampera. Djakfar pun terbangun mendengar sirine ambulans yang mengangkut jenazah seorang pejabat yang meninggal karena penyakit jantung. Iring-iringan kendaraan lumayan panjang.

Tidak ada kejadian penting di atas jembatan Ampera. Kecuali beberapa orang turun dari mobil dan tampak berfoto  sejenak. Lalu, seketika hujan turun deras. Reklame itu masih terpampang dan di bawahnya puluhan pengendara motor berteduh dari basahnya hujan. Memakan sebagian jalan. Begitupun pejabat Dinas Pekerjaan Umum di kantornya sedang memberikan  keterangan kepada wartawan  bahwa Jembatan Musi III siap dibangun. Dana ganti rugi  telah disiapkan. Kalaupun ada aset budaya dan aset sejarah yang tergusur akan dipindahkan ke lokasi lain.

Sementara Djakfar, rupanya setelah sempat terbangun, kembali meringkuk di samping keruntungnya. Karena baginya memang percuma menunggu orang memanfaatkan jasanya. Bawah jembatan itu sedang dibangun proyek wisata. Pedagangnya saja tidak ada lagi, apalagi pembeli.

Djakfar terlihat tersenyum. Dia sedang berada di ruang pendaftaran kursus bahasa Inggris minta brosur dan formulir pendaftaran. “Saya harus kursus bahasa Inggris biar nanti bisa menjadi pemandu wisata. Kalau boleh sih,  untuk biaya kursusnya saya jual keruntung dulu,” ujarnya dalam hati.

Jangankan mendapat uang, Djakfar justru diangkut ke kantor polisi. Karena orang yang ditawarinya dan akhirnya membeli keruntung itu  adalah anak pemilik keruntung. Dia pun digiring ke polisi dengan ancaman menjual barang yang bukan miliknya. Termasuk anak bos pun digiring dengan sangkaan menjadi penadah.

Kepada polisi, Djakfar mengatakan  bahwa dia  menjual keruntung tidaklah salah. Yang salah itu orang yang membuat dirinya tidak bisa lagi mencari uang dengan keruntung. “Pasar itu digusur. Gimana saya mendapat uang. Tidak ada lagi pembeli dan penjual di sana.”

Akhirnya Djakfar dan anak bos pemilik keruntung dibebaskan. Keruntung pun dikembalikan ke pemiliknya. Tetapi, sang pemilik ternyata tidak mau menerimanya kembali karena dia sudah alih usaha, menjadi pemilik pangkalan minyak tanah dan tak lama lagi akan jadi agen gas elpiji. Soalnya untuk mengimbangi rencana pemerintah  melaksanakan konversi minyak tanah ke gas. “Usaha ini akan lebih menguntungkan,” ujarnya kepada polisi. Karena itu pula dia memohon   Djakfar dan anak kandungnya dibebaskan. Dia mencabut kembali pengaduannya.

Terpaksalah, Djakfar  membawa kembali  keruntung yang sudah menjadi miliknya ke bawah jembatan “Siapa tahu saya tidak mimpi lagi. Tempat itu sudah jadi tempat hiburan para bule dan jembatan Musi I telah dibangun, lalu Musi III pun terlihat dari Musi I,” pikir Djakfar sederhana.

Dia lupa Jembatan Ampera tak bisa lagi jadi tempat mangkal. Tidak akan ada lagi tempat baginya untuk tidur pagi hari. Jangankan malam atau sore,  tidur pagi saja tidak bisa lagi.

Palembang, November 2005

*Keranjang terbuat dari rotan yang dibantungkan di bahu dan digunakan untuk mengangkut berbagai jenis barang.

**Dikenal juga dengan istilah ludah basi, air ludah yang keluar dari sela-sela bibir saat tertidur dan biasnya akan mengering dan membekas ketika bangun.

***alat musik berbentuk bulat dilapisi kulit keras seperti gendang. Dipinggirnya biasanya ditambah kuningan atau kaleng untuk menambah bunyi kerincingan. Biasanya digunakan untuk mengiringi musik daerah yang biasanya ditampilkan mengarak pengantin.

Dimuat di Sinar Harapan edisi 22 Desember 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar